Jumat, 05 September 2014

Sang Pawang dan Seekor Naga

0 komentar
Alkisah, ada seorang pawang ular ternama pergi ke daerah pegunungan untuk menangkap ular dengan keahliannya. Saat itu, salju turun dengan sangat deras. Pawang itu pun mencari ke setiap sudut gunung untuk menemukan ular yang besar. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menemukan bangkai ular naga yang amat sangat besar.

Pawang itu senang sekali dan ia ingin menyombongkan tangkapannya dihadapan seluruh penduduk kota. Ia membungkus naga itu dan membawanya ke Baghdad untuk dipertontonkan. Turunlah ia dari gunung dengan menyeret ular sebesar pilar istana. Ia sampai di kota dan segera menceritakan kehebatannya kepada setiap orang yang ia temui. Ia katakan bahwa ia telah bergumul dan berkelahi habis-habisan sampai ular itu mati di tangannya.

Masalahnya, ternyata ular naga itu tidak benar-benar mati. Ia hanya teridur karena kedinginan akibat salju yang sangat tebal. Si pawang tak mengetahui hal ini. Ia malah mengadakan pertunjukan untuk umum di tepian sungai Tigris.

Berduyun-duyun orang datang dari seluruh penjuru kota untuk melihat pemandangan luar biasa; seekor ular naga dari gunung yang mati di tangan seorang pawang ular. Semua orang mempercayai cerita pawang ular itu dan mereka tak sabar ingin melihat binatang yang langka ini. Semakin banyak pengunjung, semakin besar pula pemasukan yang didapat sang pawang. Oleh karena itu, pawang itu menunggu lebih banyak lagi orang yang datang sebelum ia membuka bungkusan ular naga. Dalam waktu singkat, tempat itu sesak dipenuhi para pengunjung.

Sang pawang lalu mengeluarkan ular besar itu dari kain wol yang membalutnya selama perjalanan dari gunung. Meskipun ular itu diikat kuat dengan tambang, sinar mentari Irak yang terik telah menerpa bungkusan ular itu selama beberapa jam, dan kehangatan itu mengalirkan kembali darah di tubuh ular. Perlahan-lahan, sang naga terbangun dari tidurnya yang panjang. Begitu ular itu bangun, ia segera meronta dari ikatan tambang yang melilitnya.

Para penonton menjerit ketakutan. Mereka berhamburan lari ke berbagai arah dengan paniknya. Kini, naga itu telah lepas dari ikatan dan ia mengaum keras seperti seekor macan. Banyak orang terbunuh dan terluka karena peristiwa ini. Si pawang ular berdiri terpaku ketakutan. Ia menjerit-jerit, "Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan ? Apa yang telah aku bawa dari gunung ?" Ular naga lalu melahap sang pawang dalam sekali telan. Dengan cepat ia menyedot darahnya dan meremukkan tulang-tulangnya seperti ranting-ranting kering.

Refleksi Hikmah :

Ular naga adalah perlambang nafsu lahiriah. Bagaimana matinya ular itu ? Nafsu hanya dapat beku dengan penderitaan dan kekurangan. Berilah nafsu itu kekuatan dan hangatnya sinar mentari, maka ia akan terbangun. Biarkan ia beku dalam salju dan ia takkan pernah bergerak. Namun bila kau melepaskannya dari ikatan, ia akan melahapmu bulat-bulat. Ia akan meronta liar dan menelan semua hal yang ia temui. Kecuali kau sekuat Musa dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah selalu ular nagamu dalam lilitan keimanan.


Toko Online Jual Habbatussauda, Minyak zaitun, Jelly gamat, Sarang semut papuaCream kecantikan, Madu murni, sabun mandi, pasta gigi, pembalut herbal, minuman herbal, sari kurma, dll

Selasa, 10 Mei 2011

Kisah Dua Tukang Sol

0 komentar
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com/kisah-dua-tukang-sol/ 
Tag : www.grosirherbalmurah.com

Kamis, 28 Oktober 2010

Kisah Sepanjang Jalan

0 komentar
Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.

Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.

Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c

Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.

Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.

Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.

Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.

Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.

Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.

Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.

Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....

Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.

Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...

Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.

***
Sumber: http://cerpenislami.blogspot.com/

Selasa, 26 Oktober 2010

Robohnya Surau Kami

0 komentar
Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.
Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.
Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.
Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.
Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.
Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.
 SELENGKAPNYA DOWNLOAD DISINI

AYAT - AYAT CINTA EMAK

0 komentar

Persembahan Terbaik Lomba Cerpen Islami, dalam Islamic Days UKKI 2010

 Oleh : Dian Nur Hidayah
“ lek..emak kok gak pernah mendengarmu mengaji?” Tanya Emak suatu saat, saat aku sarapan sebelum berangkat ke kampus seperti biasa
Aku menghembuskan nafas pelan, malas sekali menjawabnya.
“ Emak kan tau alasannya” jawabku asal sembari memasukkan sepotong tempe goreng ke dalam mulutku.
“ apa iya…kuliahmu itu ngajarin kamu jauh dari Tuhan? Masa baca Al-qur’an saja jadi malas..?”
Aku meneguk air putih hangatku dengan enggan. Rasanya kesal mendengar pertanyaan emak yang selalu saja sama tentang itu, sering kali dan tak pernah berubah.
“ Emak..?! sekarang itu yang penting konteksnya. Cuma ngaji saja gak kan cukup..kapan kita mau maju kalau begitu? Yaa kalau diamalkan? Kalau gak? Kan sia-sia saja….lagian kayak tau artinya saja dibaca terus..???
“ astaghfirulloh..eling Nak..istighfar..!! kata siapa mengaji itu gak ada gunanya? Cara kita mendekat sama Gusti pangeran ya dengan mengaji itu…kita itu gak ada apa-apanya dibanding Tuhan lek..!!jangan takabur! Qur’an kitab suci kita…bisa-bisanya kamu menyepelekan seperti itu…mau jadi apa kamu nanti?? Kalau begitu..mendingan kamu gak usah kuliah…tambah pinter malah tambah nyeleneh..”
Aku mendenguskan nafasku…tak ingin meneruskan perdebatan dengan Emak,takut-takut malah menyakitinya. Biarlah pola pikir kita yang berbeda. Bagaimanapun itu hanya gertakan emak. Dulu emak yang merongrongku untuk kuliah karena setelah lulus SMA awalnya aku ingin bekerja saja membantu emak yang sendiri tanpa bapak, menghidupi aku dan adikku yang autisme. Tapi emak melarang, ingin aku jadi sarjana agar nantinya hidupku mapan, lebih baik dari orang tuaku. Tidak mungkin hanya karena sekarang pola pikirku yang sedikit menyimpang darinya, dia memaksaku keluar dari bangku kuliah. Biar emak kecewa, bagaimanapun aku tahu yang terbaik buat diriku.

###

Sayup-sayup terdengar suara serak emak melantunkan ayat suci al-qur’an dari dalam rumah kami yang bertembok kayu dan mulai banyak berlubang dimakan rayap. Aku menjejakkan kakiku yang letih dengan gontai memasuki rumah, kemudian menjatuhkan diri di atas kursi rotan yang sama sekali tidak empuk untuk sekedar menghilangkan sedikit penatku. Jam usang berdebu yang bertengger di dinding dekat fotho keluarga yang juga tak kalah kotornya menunjukkan angka 6 lebih 25 menit. Sudah jadi kegiatan rutin emak seusai maghrib mengaji sendiri di rumah. Adikku pasti sedang di langgar mengaji dengan Bang Roqib, kyai muda di komplek rumahku. Meski autis dan berbeda dengan anak normal lainnya adikku masih dianugerahi Tuhan mau dan bisa membaca al-quran. Aku yakin Bang roqib harus sangat sabar menghadapinya karena itulah emak sangat berterimakasih padanya dan sering menjamunya di rumah. Karena memang aku,anak laki-laki pertamanya yang sibuk di kampus dan kerja sambilan tak kan pernah sempat dan mau mengajari adikku yang tidak normal itu membaca al-qur’an. Aku teringat saat masih seumuran adikku, umur 8 tahun senang sekali menenteng Qur’an ke langgar sehabis maghrib. Puas bersorak saat aku berhasil menghafal setengah dari jus 30. tapi sekarang? Aku saja lupa kapan terakhir aku memegang Al-qur’an..hafalanku saja sudah raib entah kemana. Ahh..untuk apa? Fikirku. Mengaji tidak akan membuatku kaya atau makmur. Nyatanya rumahku masih seperti ini sejak kau kecil. Bapakku yang meninggal sejak aku SMP tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk kami. Sekarang, aku tetaplah mahasiswa yang terlunta-luanta mempertahankan bangku kuliahku diiringi keringat dan darah emak. Mengaji tidak akan membuatku jadi lebih baik. Karenanya aku malas..
“ lho..sudah pulang lek..?” pertanyaan dari bibir emak yang bergetar dan kering membuyarkan lamunanku. Ia berdiri di pintu kamarnya yang berkorden usang, memandangku denagn lembutnya.
“ sudah shalat maghrib?”
“ sudah mak..” sahutku sembari beranjak menuju kamar di sis \i kamar emak, rasanya lelah sekali. Sebelum emak memberobdongku dengan banyak pertanyaan lebih baik aku melarikan diri tidur di kamarku.
“sudah makan belum? Itu ada makanan di dapur kalau belum..” kata emak lagi. Meski aku cuek, dia tetap dengan pola kasihnya.
“sudah ko mak..” jawabku lagi sambil lalu ke dalam kamarku dan menutupnya hingga suara emak tenggelam di balik pintu.
Bukan. Bukan aku tak mau berbicara banyak dan tidak ingin menggubris perhatian emak sepertinya memang aku sudah jarang berkomunikasi denagn satu-satunya orang tuaku yang paling berjasa dan penuh cinta itu. Tapi aku memang sengaja. Banyak idealismeku yang kini bertolak belakang denagn emak dan hanya akan menimbulkan percek-cokan tang tidak berujung. Emak sangat religius dan aku lebih bersikap liberal. Aku sayang padanya, karena itu menghindari yang akan membuatnya semakin kecewa padaku. Emak memendam begitu banyak kekecewaan, tapi dia lebioh banyak diam dan tahu batasan untk tidak menuntutku. Dia mengerti.
Dari dalam kamar, antara sadar dan tidak karena kantuk, lagi-lagi lantunan ayat suci itu terdengar dari kamar emak.

###
“, Bang…aku mau ikut lomba tilawah qur’an…” Suara cempreng dan terbata-bata adikku menggangguku yang sedang mengetik tugas kuliahku dengan komputer butut di dalam kamar. Adikku duduk disisi ranjangku dengan lollipop murahan di tangannya dan senyum mengembang, memamerkan giginya yang kotor dan jarang-jarang. Aku tetap saja serius dengan layar komputerku, tak perduli dengannya.
“ Bang..!!” dia menuntutku.
Aku menghela nafas kesal “ iya..!”ujarku sekenanya tanpa menoleh.
Melihatku yang acuh, tanpa ekspresi. Diapun beranjak pergi keluar kamarku yang kemudian disusul kemunculan emak di ambang pintu yang berderak-derak hampir rusak.
“ kamu itu ya..??heran emak sama kamu, masa begitu cueknya sama adik…?”hanya itu yang emak ucapkan sembari memeluk adik autisku yang meringkuk manja di pinggangnya. Kutangkap kedalaman makna dari sindiran halusnya, kekecewaan pada keacuhanku. Kalau adikku ikut lomba sains, IPA, Matematika, membuat robot, atau apa untuk kemajuan bangsa dan menghasilkan banyak uang pasti aku senang dan mendukung, tapi ini hanya tilawah Qur’an, itu sepele dan tak membuatku tertarik. Bukan salahku kalau aku acuh, toh aku tak bisa membayangkan adikku membaca Al-qu’an, seperti apa jadinya.

###
Emak sakit, sudah beberapa hari semakin kurus dan sepertinya penyakitnya semakin parah. Tapi dia masih saja melantunkan ayat suci Al-qur’annya walaupun kadang suaranya terdengar sangat lemah dan patah-patah.
“ tidak ada yang bias membuat emak tenang..selalu pasrah pada ketentuan ALLAh selain dengan membaca Qur’an lek…” tukasnya ketika kau menyuruh berhenti membaca agar ia beristirahat.
Bahkan emak pun memintaku membacakan untuknya, meski enggan tapi aku tetap menurutinya. Ntah kenapa akhir-akhir ini aku begitu takut kehilangan emak, aku takut emak menyusul bapak. Tidak! Aku tidak akan siap.
“ lek… suaramu bagus..enak kalo membaca Al-qur’an.. tapi kok kamu gak pernmah mau membaca lagi to..??? apa kamu sudah merasa cukup dengan ilmu-ilmu dari kuliahmu itu?? Emak gak pengen kamu jadi presiden atau ilmuwan nak…cukup kamu mapan, juga solekh..emak sudah bangga..biar bias jadi celengan emak di syurga”
Emak mengelus rambutku yang cak-acakan. Aku tertunduk, tak mampu berkata apa-apa atau mendebatnya seperti biasa. Bibirku terasa kelu, kata-katanya benar-benar membuatku semakin takut. Adikku berbaring disisi emak, tangannya memeluk tubuh kurus emak dengan erat seolah tak ingin melepasnya sedetik saja. Ku rasa dia merasakan hal yang sama denganku. Ingin rasanya aku membawa emak keRS untuk berobat hingga sembuh tapi lagi-lagi biaya jadi kendala.
“ kita tak perlu muluk-muluk untuk mendekat pada Allah..tidak perlu tau artinya dulu sebelum membaca Qur’an..kepintaran kita itu seberapa to lek..?? kuasaNYa juga seberapa..?? gak perlu ngoyo mengamalkan semuanya..yang penting usaha sedikit-sedikit..dibaca dengan ikhlas..gak mengaharapka apa-apa selain kedekatan dengan Allah..insyaAllah gak ada yang sia-sia. Wong Allah tau maksud kita itu apa sebelum kita memberi tahu-Nya”
Aku menjatuhkan kepalau di atas tangan tirus pucat emak, menciumnya dengan takzdim..ketakuatan itu semakin mengerogoti dadaku..dan tanpa sadar aku meneteskan beberapa butir air mata.

###
1 bulan semenjak emak terbaring lemah… aku dan adikku benar-benar kehilangan dia. Sepulang kuliah dan kerja sambilan, dengan badan yang masih letih, adikku menarikku cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Ia menangis keras sembari menunjuk sosok emak yang terkulai kaku diatas dipannya. Emak masih memeluk Qur’an yang usang karena terlalu sering ia baca di atas dada kurusnya yang sudah tak naik-turun seiring dengan nafasnya yang sudah berhenti. Aku gemetar mendekat, mengambil kitab suci itu dari tangannya yang dingin dan memeluknya dengan tangis tanpa suara. Aku mencium keningnya yang halus dan terdapat bekas hitam karena seringnya ia bersujud. Emak yang kuat dan begitu sering tanpa lelah mengenalkannku pada Tuhan,akhirnya di panggil-Nya. Dengan suara serak karena kerongkonganku terasa tercekik aku mengajak adikku mengambil wudhu dan membacakan surat Yassin, mengantar kepergian emak. Bagaimanapun sebagai anak tertua aku harus kuat dan menguatkan adikku yang terus menangis dengan kepolosannya. Hatiku terasa tertetesi embun ketika aku membaca ayat demi ayat seolah kepergian emak bukanlah ambang dari kehancuraku yang kini sendiri dengan adikku, aku merasa dekat dengan-Nya. Inilah hal sederhana yang selalu emak tegaskan padaku, membaca ayat cinta Tuhan bagaimanapun hidup ini akan diatur-Nya. Mulai detik semenjak aku sadar akan setiap nasehat indah yang selau kuacuhkan…aku akan berjanji melaksanakannya..mengikuti setiap kata emak untuk mencintai Al-qur’an karena memang tak ada yang membuatku tenang selain itu.
Pasang Iklan Gratis

Powered byEMF Forms Online
Report Abuse
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...